Di era politik modern, kita sering disuguhkan calon pemimpin yang tampak sempurna: jas rapi, pidato lancar, kampanye mewah, dan sorotan media yang terang benderang. Semua itu memang memukau, namun pertanyaannya adalah: apakah penampilan dan pencitraan cukup untuk memimpin bangsa? Atau yang lebih penting adalah ketulusan, kejujuran, dan kedekatan dengan rakyat? Kisah seorang tokoh yang hadir sederhana, bahkan dengan sandal jepit, menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan sejati lahir dari hati, bukan dari kemewahan atau citra semata.
Tokoh itu adalah Sahrin Hamid, yang namanya melekat pada sejarah perjuangan rakyat sejak era reformasi. Ia bukan lahir dari seminar elit, ruang rapat ber-AC, atau baliho mahal. Ia muncul dari jalanan — demonstrasi, diskusi rakyat, dan aksi nyata melawan ketidakadilan. Dari sini terlihat bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari keberanian, ketulusan, dan kedekatan dengan rakyat, bukan dari penampilan atau pamrih politik semata.
Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan bertemu Sahrin di kongres organisasi pemuda di Samarinda. Telepon dari seorang kawan memberi tahu bahwa ia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum BM PAN. Saya hadir dengan ekspektasi melihat politik formal: rapat, sidang, dan strategi diplomasi. Namun kenyataannya membuka mata saya tentang arti kepemimpinan sejati. Di tengah kandidat lain yang tampil rapi dengan kemeja, celana bahan, dan sepatu bersih, Sahrin hadir dengan kaos sederhana, celana jeans, dan sandal jepit.
Kesederhanaan itu bukan sekadar gaya. Itu adalah simbol kejujuran, integritas, dan keberanian. Ia hadir bukan untuk memukau publik atau media, tetapi karena panggilan hati untuk melayani rakyat. Sikap ini menegaskan bahwa pemimpin sejati menilai politik dari ketulusan, keberanian, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat, bukan dari kemasan luar atau pencitraan semata.
Sidang kongres berlangsung sengit. Tarik-menarik suara, ego wilayah, dan negosiasi kepentingan terjadi nyata. Namun rakyat memilih Sahrin bukan karena penampilannya, melainkan karena kedekatannya dengan rakyat, ketulusan, dan integritasnya. Momen ini membuktikan bahwa politik yang tulus akan selalu menemukan jalannya, meski di tengah persaingan yang keras dan penuh intrik.
Karier politik Sahrin terus berkembang hingga menjadi anggota DPR RI, namun kesederhanaannya tetap melekat. Hubungan dengan rakyat dan kolega tetap hangat, meski status dan posisi meningkat. Ia selalu hadir dengan sikap rendah hati, komunikasi sederhana, dan perhatian nyata terhadap aspirasi masyarakat. Ini menjadi pengingat bahwa politik bukan soal citra, tetapi aksi nyata yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat.
Kini, Sahrin memimpin Partai Gerakan Rakyat, sebuah wadah politik yang lahir dari aspirasi rakyat dan gerakan nyata. Partai ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dekat rakyat bukan sekadar slogan kosong, tetapi praktik nyata. Dukungan terhadap tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan juga menegaskan komitmen untuk menghadirkan perubahan nyata bagi bangsa.
Pelajaran dari kisah ini sangat jelas: pemimpin sejati hadir bukan karena pamrih, citra, atau strategi pencitraan, tetapi karena panggilan hati untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka memahami tantangan sehari-hari rakyat, turun ke lapangan, berbicara langsung dengan warga, dan mendengar aspirasi masyarakat secara nyata.
Ketika memilih pemimpin, jangan menilai hanya dari penampilan luar atau janji manis. Lihatlah integritas, keberanian, dan kedekatan dengan rakyat. Politik yang hadir dengan “sandal jepit” bukan sekadar simbol, tetapi manifestasi kepemimpinan yang jujur, nyata, dan berdampak. Pemimpin seperti ini menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan, memastikan perubahan terjadi bukan hanya di media, tetapi juga di kehidupan nyata masyarakat.
Kisah Sahrin Hamid menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu mewah atau formal. Kesederhanaan yang berpadu dengan integritas, keberanian, dan ketulusan adalah fondasi politik efektif, berkelanjutan, dan benar-benar mewakili suara rakyat. Saat memilih pemimpin, mari utamakan kualitas ini. Karena politik yang tulus, nyata, dan dekat dengan rakyat adalah jalan menuju perubahan yang membawa manfaat bagi bangsa dan generasi mendatang.